Macam-Macam Riba Menurut Ilmu Fiqh yang Wajib Diketahui Umat Muslim

KeluargaSamawa.com – Riba jika ditinjau dari segi bahasanya memiliki arti bertambah. Sedangkan jika berdasarkan pada ilmu fiqh, terdapat beberapa pengertian yang berbeda namun garis besarnya adalah  memberi tambahan pada berbagai hal yang sifatnya khusus. Riba ini terdiri dari beberapa macam dan semua macam riba tersebut hukumnya adalah sama-sama haram. Bahkan hal ini sudah dijelaskan dengan gamblang pada beberapa ayat dalam Al-Quran. Rasulullah SAW pun juga menegaskan keharaman riba ini dalam beberapa hadits yang shohih. Nah, bicara tentang riba, sebagai umat muslim sebaiknya ketahui  mengenai macam-macam riba menurut ilmu fiqh, berikut ini:

  • Riba Nasi’ah

Macam-macam riba menurut ilmu fiqh yang pertama ialah riba nasi’ah. Riba ini oleh Ibnul Qayyim disebut sebagai riba jali atau riba yang jelas dan para fuqoha’ juga menyebutnya sebagai riba bai’ atau riba jual beli. Riba nasi’ah disebut juga sebagai riba jahiliyah karena asalnya adalah dari kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah yang suka memberikan pinjaman dan saat waktunya telah habis, ada bunganya.

Macam-Macam Riba Menurut Ilmu Fiqh yang Wajib Diketahui Umat Muslim

Macam-Macam Riba Menurut Ilmu Fiqh

Selain itu, kalimah nasi’ah sendiri berasal dari fi’il madli, yakni nasa’a, dimana artinya adalah menunda, menunggu, menangguhkan ataupun maksud lainnya yang merujuk pada tambahan waktu yang telah diberikan saat peminjaman dengan memberikan nilai lebih. Sedangkan mengenai hukumnya, para ahli fiqh sendiri sudah sepakat akan keharamannya.

  • Riba Fadl

Macam riba yang kedua adalah riba fadl. Ibnul Qayyum menyebut riba jenis yang kedua ini sebagai riba khafi atau riba yang sama, karena riba fadl ini bisa menjadi pintu yang mengantarkan pada riba nasi’ah. Sama seperti riba nasi’ah di atas, riba fadl ini oleh para fuqoha’ juga disebut sebagai riba bai’ atau riba jual beli.

Definisi dari riba fadl ini adalah tafadhul atau selisih timbangan atas dua perkara yang secara syar’i diwajibkan tamatsul atau kesamaan timbangan atas keduanya. Dengan definisi tersebut, bisa dikatakan bahwa riba fadl ini adalah penambahan pada salah satu barang yang dipertukarkan di dalam jual beli barang ribawi yang sejenis.

Mengenai hukum dari riba fadl, sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa riba ini juga haram dengan berbagai dalil penguatnya yang berupa hadits.

Baca juga : Hukum Islam jika tidak Membayar Hutang

  • Riba Dain

Nah, macam riba yang ketiga adalah riba dain atau riba di dalam hutang piutang. Sama seperti riba nasi’ah, riba ini tergolong riba jahiliyah karena sudah terjadi di zaman jahiliyah. Riba Dain ini terdiri dari dua bentuk, antara lain:

  1. Penambahan harta yang dijadikan denda akibat penambahan tempo. Misalnya adalah pihak A meminjam uang sebesar Rp 10.000 pada pihak B dengan waktu tempo pengembaliannya adalah 2 minggu.

Setelah 2 minggu kemudian, pihak A ini harus membayar pinjamannya tersebut, atau jika dia belum punya uang saat waktu yang telah disepakati, dia akan membayar hutang ditambah dengan denda, misalnya hutang yang awalnya Rp 10.000, pihak A menjadi membayar Rp 10.500. Untuk sistem ini disebut juga riba mudha’afah atau riba dengan melipatgandakan uang.

  1. Bunga pinjaman yang sudah disyaratkan di awal akad. Ilustrasi sederhananya adalah pihak A mengutarakan niatnya untuk berhutang pada pihak B, dan ternyata pihak B menegaskan bahwa dia akan memberi pinjaman misalnya sebesar Rp 35.000 dengan temponya adalah selama 1 bulan, jika lebih dari satu bulan akan dikenakan denda sebesar Rp 1.500 sehingga jumlah yang harus dibayarkan oleh pihak A berubah menjadi Rp 36.500.

Baca juga : Kelola Keuangan Secara Islami Lebih Menguntungkan dan Menentramkan

Nah, itu dia ulasan terkait macam-macam riba menurut ilmu fiqh. Semoga penjelasan kami di atas bisa memberikan tambahan pengetahuan kepada Anda. Wallahu a’lam bish showab.

Leave a Reply