Hukum Puasa Bagi Wanita Hamil dan Menyusui Menurut Para Ulama

0
11

Puasa, dalam hal ini puasa Ramadhan, menjadi salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan/dikerjakan oleh semua umat muslim. Namun, dalam beberapa keadaan, seseorang juga diperbolehkan untuk tidak melaksanakan puasa. Jika seseorang dalam keadaan sakit misalnya, dan kondisi sakitnya tersebut tidak memungkinkan untuk melakukan puasa, maka ia diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan harus menggantinya dengan puasa di hari lain.

Selain karena sakit, kondisi lain yang sering menjadi sorotan dan sering dipertanyakan yaitu pada saat seorang wanita tengah hamil maupun dalam masa menyusui. Banyak yang bertanya hukum melaksanakan puasa dalam keadaan tersebut. Dan para ulama pun berusaha memberikan penjelasaannya berdasarkan hadist dan dalil yang ada.

Nah, untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah informasi mengenai hukum puasa bagi wanita hamil dan menyusui menurut pandangan kalangan ulama.

  • Apakah Wanita Hamil dan Menyusui Boleh Tidak Berpuasa?

Sebenarnya tidak ada dalil yang pasti mengenai boleh tidaknya wanita hamil dan menyusui untuk melaksanakan puasa. Namun menurut hadist Nabi, wanita hamil masuk dalam golongan orang-orang yang berat untuk melakukan puasa.

hukum puasa bagi wanita hamil dan menyusui
hukum puasa bagi wanita hamil dan menyusui

Dalam keadaan ini seorang ibu mungkin memiliki kondisi kesehatan yang berbeda-beda sehingga hukumnya pun juga menyesuaikan keadaan dari wanita tersebut. Berikut adalah penjelasannya.

  • Seorang wanita yang tengah hamil dan dirasa mampu melakukan puasa, maka diharuskan baginya untuk tetap berpuasa. Kondisi ini berlaku jika sang ibu tidak mendapati masalah ataupun kekhawatiran tertentu saat sedang menjalani puasa dan merasa dirinya dan jabang bayinya baik-baik saja dan dalam kondisi yang sehat. Keadaan ini juga berlaku bagi ibu menyusui.
  • Adapula kondisi dimana seorang wanita hamil boleh tidak berpuasa demi kesehatan dirinya dan bayinya. Ia khawatir terhadap kesehatannya dan jabang bayi jika melaksanakan puasa. Jika dirasa tidak mampu dan merasa khawatir terhadap keadaan keduanya (atau salah satu), diperbolehkan bagi wanita tersebut untuk tidak berpuasa dan menggantinya di lain hari. Hal yang sama juga berlaku untuk ibu mneyusui.

Dalam keadaan ini dianjurkan bagi wanita tersebut untuk mementingkan kesehatan keduanya sehingga membatalkan puasa merupakan pilihan yang baik demi keselamatan ibu dan bayi.

  • Cara Membayar Puasa Wanita Hamil dan Menyusui

Dalam keadaan hamil dan menyusui tentu saja seorang wanita memiliki kondisi tertentu yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Mereka yang termasuk golongan ini sebenarnya tidak dianjurkan untuk melakukan puasa dan hendaknya mengganti di lain hari.

Terdapat beberapa pendapat mengenai cara mengganti puasa bagi ibu hamil dan menyusui. Berikut adalah beberapa pendapat para ulama.

  • Menurut Imam Nawawi hukum membayar puasa bagi wanita hamil terbagi menjadi dua yaitu:
  • Apabila wanita hamil dan menyusui menghawatirkan keadaan dirinya maka keduanya diperbolehkan untuk tidak melakukan puasa, namun wajib untuk mengqadha dan tidak wajib membayar fidyah.
  • Apabila wanita hamil dan menyusui menghawatirkan keadaan anaknya dan bukan keadan dirinya, maka keduanya diperbolehkan untuk tidak berpuasa, namun wajib untuk mengqadha dan membayar fidyah.
  • Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsmain

Beliau lebih menyamakan wanita yang sedang hamil dan menyusui seperti keadaan orang-orang sakit dan musyafir, maka dari itu menurutnya wanita hamil dan menyusui wajib untuk menqhada saja tanpa perlu membayar fidyah.

  • Menurut Ibnu Qudamah

Menurut beliau wanita hamil dan menyusui merupakan wanita yang mampu untuk mengganti puasanya dengan mengqada. Dengan begitu wajib bagi mereka untuk mengqadha puasanya seperti mereka yang meninggalkan puasa karena haid dan nifas.

Baca juga : Inilah 7 Sunnah Saat Menyambut Kelahiran Bayi Menurut Anjuran Islam

Itulah informasi mengenai hukum puasa bagi wanita hamil dan menyusui. Semuanya tergantung pada keadaan ibu dan bayinya, jika dirasa mampu melakukan puasa maka diperbolehkan untuk melakukannya dan begitu pula sebaliknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.